Pages

Tampilkan postingan dengan label Teknik Sipil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknik Sipil. Tampilkan semua postingan

Kamis, November 11, 2010

Karya Perdana Rumah Jepang

(Sidoarjo, HARISPRADIPTA.blogspot.com)

Akhirnya bisa juga!

Setelah tiga minggu training, berkutat dengan Bahasa Jepang, software Jepang, peraturan-peraturan standar Jepang dan kebudayaan Jepang akhirnya saya membuahkan karya perdana desain konstruksi rumah Jepang.

Pertama kali masuk training, hampir separuh hidup saya dalam satu hari habis untuk menggaruk-garuk kepala bingung campur frustasi. Dari eS-De yang dicekoki Bahasa Inggris, Tsanawiyah dan Aliyah yang penuh dengan Bahasa Arab, masa kuliah sibuk dengan buku-buku bahasa Inggris dan Belanda, dan sekarang harus dan wajib mengerti Bahasa Jepang sekaligus tetek bengeknya.

Lalu seperti apakah pekerjaan saya tersebut? Perlu diketahui terlebih dahulu, bahwa budaya orang Jepang adalah membuat rumah secara Prefabrikasi, yang mana hampir 90% bahannya adalah kayu. Hal ini merupakan jawaban dari permasalahan bangunan Prefabrikasi. Namun kendalanya adalah biaya yang dikeluarkan untuk membangun bangunan semacam ini akan sangat besar.

Singkat saja, pekerjaan saya ini adalah menggambar rumah yang dipesan oleh orang Jepang. Yaitu, setelah para Arsitek dan Praktisi Teknik Sipil Jepang selesai mendesain sebuah rumah, maka gambar desain tersbut dikirim ke Indonesia untuk digambar pada sebuah software. Saya bertugas menyalin desain tersebut ke dalam software agar mesin fabrikasi kayu dapat mencetak kayu-kayu dengan ukuran dan jenis menurut desain awal pesanan dan desain yang saya inputkan.

Cukup ribet jika diterangkan lebih jauh dan jika penasaran ingin mengetahui lebih jauh mungkin teman-teman harus "mbayar dhisik" kepada empunya Copyright perusahaan saya. Namun karena saya baik hati, murah senyum dan tidak sombong maka berikut ini saya berikan snapshot hasil pekerjaan saya.

Gambar 3D (klik gambar untuk perbesar)

Lantai 1 (klik gambar untuk perbesar)

Lantai 2 (klik gambar untuk perbesar)

Koya (penahan atap) (klik gambar untuk perbesar)

Atap (klik gambar untuk perbesar)

Happy working, happy learning, keep spirit 'lah yaw.

Sabtu, September 04, 2010

Menghitung Kebutuhan Pekerja untuk Pekerjaan Pasangan Dinding

(Malang, HARISPRADIPTA.blogspot.com)

Menindak lanjuti post saya beberapa waktu yang lalu yang berjudul Membuat Kurva S dan sekaligus menjawab permintaan sahabat blog yang mengirim email meminta penjelasan prosedur perhitungan kebutuhan pekerja untuk pekerjaan pasangan dinding, maka kini saya sajikan prosedur perhitungan kebutuhan pekerja untuk pekerjaan pasangan dinding.

Hasil dari perhitungan yang akan saya jelaskan nantinya akan sangat berpengaruh pada kecepatan pelaksanaan pekerjaan pasangan dinding dan juga berpengaruh pada biaya yang dikeluarkan untuk pekerjaan ini. Perhitungan yang saya jelaskan di bawah ini adalah hasil laporan Proyek Akhir saya yang telah mendapatkan persetujuan dan bimbingan para dosen Teknik Sipil, khususnya bidang Manajemen Konstruksi, yang berkompeten dalam bidangnya.

Pada post ini saya sajikan dua buah perhitungan, yaitu pekerjaan pasangan dinding menggunakan bata merah dan dengan menggunakan bata ringan (ALC) dari Citicon. Hal ini dimaksudkan agar dapat dibandingkan antara keduanya disamping memberikan gambaran umum tentang pekerjaan pasangan dinding.

Hal-hal yang harus diketahui terlebih dahulu dalam perhitungan ini adalah:
1. Komposisi satu tim pekerja, yang meliputi Mandor, Tukang dan Pembantu Tukang.
2. Kemampuan satu tim pekerja perharinya.
Kedua hal tersebut bisa didapatkan melalui penelitian maupun pengalaman di lapangan.

Pekerjaan Pasangan Dinding Bata Ringan

Satu tim pekerja pasangan dinding menggunakan bata ringan (ALC) terdiri dari 3 tukang dan 2 pembantu tukang. Dari hasil pengamatan didapat:

a) Hari pertama
Tukang 1 = 4,5 m x 1,5 m = 6,75 m^2
Tukang 2 = 4 m x 1,5 m = 6 m^2
Tukang 3 = 5 m x 1,5 m = 7,5 m^2
Total hasil pekerjaan pada hari pertama = 20,25 m^2.

b) Hari kedua
Tukang 1 = 4,8 m x 1,5 m = 7,2 m^2
Tukang 2 = 5,2 m x 1,5 m = 7,8 m^2
Tukang 3 = 5 m x 1,5 m = 7,5 m^2
Total hasil pekerjaan pada hari kedua = 22,5 m^2.

c) Hari ketiga
Tukang 1 = 4,2 m x 1,5 m = 6,3 m^2
Tukang 2 = 4 m x 1,5 m = 6 m^2
Tukang 3 = 4,8 m x 1,5 m = 7,2 m^2
Total hasil pekerjaan pada hari ketiga = 19,5 m^2.

Maka didapatkan rata-rata hasil pekerjaan perharinya = 20,75 m^2



Pekerjaan Pasangan Dinding Bata Merah

Satu tim pekerja pasangan dinding terdiri dari 1 tukang dan 2 pembantu tukang. Dari hasil pengamatan didapat:

a) Hari pertama
Hasil kerja = 8 m x 2 m = 16 m2
Hasil pekerjaan pada hari pertama = 16 m2.

b) Hari kedua
Hasil kerja = 6 m x 2 m = 12 m2
Hasil pekerjaan pada hari kedua = 12 m2.

c) Hari ketiga
Hasil kerja = 6 m x 2 m = 12 m2
Hasil pekerjaan pada hari ketiga = 12 m2.

Maka didapatkan rata-rata hasil pekerjaan perharinya = 13,3 m^2



Kesimpulan

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa untuk pekerjaan pasangan dinding menggunakan bata ringan dapat dikerjakan oleh 0,048 tim perharinya atau dengan kata lain 1 tim dapat mengerjakan 1 m^2 pekerjaan dalam 0,048 hari.

Begitu pula dengan pekerjaan pasangan dinding menggunakan bata merah, pekerjaan ini dapat diselesaikan 0,075 tim perharinya atau dengan kata lain 1 tim dapat mengerjakan 1 m^2 pekerjaan dalam 0,075 hari.

Hasil perhitungan ini bersifat relatif tergantung kemampuan dan keahlian masing-masing tim yaitu yang terdiri dari mandor, tukang dan pembantu tukang. Penjelasan di atas dimaksudkan memberikan gambaran tentang prosedur perhitungan kebutuhan pekerja (tim) dalam pekerjaan pasangan dinding.

Sebagai tambahan referensi silakan download file perhitungan RAB di sini.

Selasa, Juni 08, 2010

Membuat Maket Pondasi Sarang Laba-Laba [Tips & Trik]

(Malang, HARISPRADIPTA.blogspot.com)

"Silakan saudara menerangkan cara pembuatan pondasi sarang laba-laba", perintah Pak Imam Alfianto, dosen Teknologi Bahan Bangunan II, ketika kemarin gue perbaikan ujian akhir semester untuk mata kuliah ini karena nilai-nilai yang menyedihkan.

"Begini, Pak", sahut gue. "Pertama-tama kita harus melakukan pembersihan lokasi terlebih dahulu, kemudian kita dapat melakukan galian pondasinya sedalam 1 – 1,5 m, dan bla... bla... bla...", gue mulai berceloteh tidak jelas. Pak Imam memandang dengan datar.

Beberapa menit kemudian gue merasa sudah cukup puas dengan jawaban yang gue jabarkan. "Kamu ngarang dari mana itu?", kata Pak Imam. "Sudah, keluar saja...! ganti yang lain". Gue hanya bengong dan kemudian keluar.

"Ujian-ujian nilainya jeblok, ujian perbaikan malah diusir, bisa gawat ini", pikir gue. Namun sore harinya, kita-kita para fakir nilai mendapat secercah cahaya harapan ketika Bascom, si Ketua kelas untuk kuliah Pak Imam ini, memberitahu bahwasanya siapa saja yang ingin mendapat nilai tambahan harus membuat maket sesuai dengan materi yang pernah dipresentasikan saat perkuliahan.

Ide kreatif mulai bermunculan, dari menyewa pemaket bayaran hingga membeli maket instan (memangnya ada, ya?). Namun keduanya pasti akan menelan biaya yang cukup banyak. Jadilah gue berencana membuat maket sendiri. Dan target partner (baca: korban kerja paksa) membuat maket adalah teman gue Irur. Ide pertama yang muncul adalah "membuat maket pondasi sarang laba-laba". Tekad untuk memperbaiki apa yang kemarin pernah ditolak oleh Pak Imam. Dan kala itu hanya punya waktu yang sedikit untuk menyelesaikan maket ini, mengharuskan gue memikirkan membuat maket yang praktis namun tidak mengecewakan. Maka mulailah gue menyiapkan apa yang dibutuhkan dalam proyek ini.

1. Alat dan Bahan
Bahan dalam maket gue hanya memerlukan kertas karton tebal satu lembar untuk alas dan yang tipis kurang lebih 10 lembar untuk bentuk pondasi keseluruhan, serta styrofoam. Alat yang digunakan cukup mudah ditemukan di alam sekitar kita, yaitu penggaris, pensil, gunting, cutter, lem kertas, selotip double tape, hair dryer, setrika, dan kepala dengan ide yang cemerlang.

Peralatan pembuatan maket

Kepala dengan ide yang cemerlang

2. Pembuatan
Pertama-tama, membuat konsepnya. Gue menggunakan program Sketch Up dari Google untuk membuat konsep awalnya. Hasilnya seperti gambar di bawah ini.

Konsep maket

Gue buat pondasi ini memiliki tebal 20 cm, tinggi 1 m, jarak antar kolomnya 3 m (dari as kolom), tinggi kolom 4 m dan tebal pelat lantai 20 cm. Konsepnya digambar pada karton tebal yang digunakan sebagai alas dengan skala 1 : 100.

Menggambar konsep maket pada karton alas

Untuk karton pembentuknya (yang tipis) gue bagi menjadi 3 bagian. Untuk badan pondasi, untuk balok rib (bagian pondasi yang berbentuk segitiga, dan untuk pelat pondasi yang di atas pondasi sarang laba-laba.

Bagian pertama terdiri dari empat sisi. Dua sisi sama dengan dua kolom, dan sisi sama yang lain dengan satu kolom. Pada gambar, yang berwarna pink adalah bagian yang akan dilem, dan garis-garis tersebut adalah garis lipat. Maka jadinya seperti gambar di bawah ini.

Bagian 1 (badan pondasi)

Kemudian membuat bagian kedua untuk membuat balok rib-nya. Seperti gambar di bawah ini.
Bagian 2 (balok rib segitiga)

Langkah selanjutnya adalah mengguntingi semua konsep yang telah selesai digambar dilanjutkan dengan mengelemnya.

Menggunting karton bagian 1 (badan pondasi)

Menggunting dan mengelem karton bagian 2 (balok rib segitiga)

Gunakan hair dryer atau strika jika lem tidak kunjung mengering

Memasang guntingan karton bagian 2 (balok rib segitiga)

Mendirikan guntingan karton bagian 1 (badan pondasi)

Memasang guntingan bagian 3 (pelat lantai) dan styrofoam untuk efek tanah isian (sirtu yang dipadatkan) di dalam pondasi

Mengecat bagian-bagian dari pondasi untuk memberikan legenda maket

Maket selesai

Sabtu, Mei 01, 2010

Membuat Kurva-S [Manajemen Proyek]

(Malang, HARISPRADIPTA.blogspot.com)

Akhirnya gue mengerjakan Proyek Akhir juga. Apa itu Proyek Akhir? Proyek Akhir itu Skripsinya Mahasiswa Universitas Negeri Malang yang ambil studi D3. Lalu apa hubungannya dengan judul post ini?

Nah, begini ceritanya. Judul Proyek Akhir gue “Studi Perbandingan Biaya dan Waktu Pelaksanaan Pekerjaan Dinding Menggunakan Batu Bata Ringan Citicon Dengan Batu Bata Merah  Proyek Pembangunan Rumah Dua Lantai Perumahan Araya Kavling 43 & 45”, panjang ya? Karena menurut gue yang panjang itu pasti keren!

Nah, seperti yang tertera dalam judul, gue membahas tentang biaya dan waktu. Untuk perhitungan biaya proyek, teman-teman dapat membaca di post gue sebelumnya tentang cara-cara perhitungan RAB (klik disini). Setelah perhitungan RAB, para kontraktor harus meneruskan pekerjaannya menghitung RAP atau Rencana Anggaran Pelaksanaan. RAP kebutuhan material dan tenaga secara detail untuk menyelesaikan suatu bangunan, atau dapat juga dimaksud dengan penjabaran dari RAB (Rencana Anggaran Biaya). Pada umumnya RAB digunakan untuk mengajukan penawaran pekerjaan borongan, sedangkan RAP digunakan untuk menentukan jumlah material dan tenaga dalam pelaksanaan pembangunan.

Kemudian setelah jumlah duit berhasil diketahui, maka kontraktor dapat melangkah ke pembuatan kurva S. Untuk contoh mudahnya saya ambilkan dari proyek yang kapasitasnya kecil (gue belum dapat persetujuan untuk mempublikasikan RAB, RAP dan kurva S proyek yang gue gunakan sebagai obyek Proyek Akhir. Sori…).

Tapi sebelum itu, mari kita kenal dulu apa itu kurva S atau dalam bahasa kerennya disebut S-Curve. Kurva S secara grafis adalah penggambaran kemajuan kerja (bobot %) kumulatif pada sumbu vertikal terhadap waktu pada sumbu horisontal. Kemajuan kegiatan biasanya diukur terhadap jumlah uang yang telah dikeluarkan oleh proyek. Perbandingan kurva “S” rencana dengan kurva pelaksanaan memungkinkan dapat diketahuinya kemajuan pelaksanaan proyek apakah sesuai, lambat, ataupun lebih dari yang direncanakan.

Bobot kegiatan adalah nilai persentase proyek dimana penggunaannya dipakai untuk mengetahui kemajuan proyek tersebut.



Misalnya sebuah proyek memiliki bobot pekerjaan seperti pada tabel di bawah ini.



Maka perhitungan bobot kegiatan (2), beton/dinding adalah:



Setelah mendapatkan bobot kegiatan, selanjutnya adalah membuat tabel bar chart dan bobot kegiatan yang didistribusikan ke setiap periode kegiatan. Misalnya, kegiatan beton/dinding akan dilaksanakan selama enam minggu, maka bobot kegiatan beton/dinding per periode adalah:



Hasil setiap periode dijumlahkan dan selanjutnya bobot per periode ditambahkan periode sebelumnya sehingga akhir proyek akan mencapai bobot 100 %. Selanjutnya, dibuatkan kurva dengan memplot nilai bobot per periodenya, seperti pada gambar di bawah ini.


klik untuk perbesar


Banyak orang bingung tentang bagaimana mengalokasikan waktu untuk tiap-tiap jenis kegiatan pekerjaan (dalam gambar tertera bahwa pekerjaan beton/dinding dialokasikan menjadi 6 minggu). Mungkin bagi para ahli manajemen proyek, ini bukan hal yang sulit namun bagi gue hal ini cukup membuat gue tidak bisa tidur semalaman.

Untuk mengalokasikan waktu dari sebuah pekerjaan kita dapat menggunakan cara volume pekerjaan dinding keseluruhan harus dibagi dengan kecepatan konstruksi material batu bata merah, yaitu 6 – 8 m2/hari.

Jika dalam pembuatan Time Schedule waktu dibagi menjadi per minggu, maka hasil pembagian volume pekerjaan dengan kecepatan konstruksi harus dibagi dengan tujuh hari dalam satu minggu.

Misalnya pada contoh proyek pada lantai satu memiliki volume pekerjaan dinding sebesar 51 m3. Maka langkah untuk menghitung alokasi pekerjaan, pertama adalah konversi satuan volume dari m3 menjadi m2, karena 1 m3 sama dengan 6,7 m2 (tebal bata pada umumnya), maka:

51 m3 x 6,7 = 341,7 m2

Kemudian satuan luas yang didapat dari konversi volume pekerjaan dibagi dengan kecepatan konstruksi dinding menggunakan pasangan batu bata merah:



Jika dalam time schedule waktu pelaksanaan didistribusikan menjadi satuan minggu, maka jumlah hari yang diperoleh harus dibagi dengan tujuh hari:



Jadi jika bobot pekerjaan dinding batu bata merah misalnya 5,787 %, maka persentase tersebut harus dibagi dengan jumlah minggu yang ditemukan. Kemudian hasilnya dimasukkan pada chart pada time schedule dalam satuan persen yang telah ditemukan, yaitu 0,965 %.



Nah, sekarang sudah dapat kita ketahui darimana angka 0,965 di gambar time schedule di atas dan bagaimana cara alokasi waktu enam minggu untuk pekerjaan beton/dinding.

Semoga post ini bermanfaat bagi teman-teman sekalian. Pada post berikutnya gue janji akan membagikan Proyek Akhir gue pada teman-teman sekalian. Tentunya kalau Proyek Ahir gue sudah diuji. Gue harap teman-teman sudi memberikan kritik dan saran.(download laporan Proyek Akhir saya di sini)

NB: Sebagai referensi teman-teman dapat unduh file contoh perhitungan RAB dan pembuatan kurva-S (klik disini).

Minggu, November 01, 2009

KODE ETIKA INDUSTRI JASA KONSTRUKSI

KODE ETIKA (KEPROFESIAN/ETIKA PROFESI) DIKAITKAN DENGAN INDUSTRI JASA KONSTRUKSI (KONSULTAN/KONTRAKTOR/PABRIK MATERIAL BANGUNAN)

I. PENDAHULUAN
KODE ETIKA DI PANDANG DARI SEGI INDUSTRI JASA KONSTRUKSI
(KONSULTAN, KONTRAKTOR, PABRIK MATERIAL BANGUNAN)

Konsultan secara umum, adalah kumpulan Ide, Pikiran, gagasan atau ketentuan yang baik dan bermoral yang dibuat dan dilaksanakan oleh kelompok atau orang-orang yang berkeahlian dalam bidang konsultan, yang berprofesional, untuk menjunjung tinggi kemulian profesi mereka demi tangunjawabnya terhadap profesi mereka, masyarahkat, lingkungan dan Tuhan Yang Maha Esa.


Kontraktor secara umum, adalah kumpulan Ide, Pikiran, gagasan atau ketentuan yang baik dan bermoral yang dibuat dan dilaksanakan oleh kelompok atau orang-orang yang berkeahlian dalam bidang kontraktor, yang berprofesional, untuk menjunjung tinggi kemulian profesi mereka demi tangunjawabnya terhadap profesi mereka, masyarahkat, lingkungan dan Tuhan Yang Maha Esa.


Sedangkan Pabrik Material Bangunan secara umum, adalah kumpulan Ide, Pikiran, gagasan atau ketentuan yang baik dan bermoral yang dibuat dan dilaksanakan oleh kelompok atau orang-orang yang berkeahlian dalam bidang Industri, yang berprofesional, untuk menjunjung tinggi kemulian profesi mereka demi tangunjawabnya terhadap profesi mereka, masyarahkat, lingkungan dan Tuhan Yang Maha Esa.

 Jadi secara keseluruhan Kode Etika adalah sekumpulan peraturan atau ketentuan yang baik dan bermoral yang dibuat dan dilaksanakan oleh sekelompok orang yang berkeahlian tertentu, yang berprofesional, untuk menjunjung tinggi kemuliaan profesi mereka demi tanggungjawabnya terhadap profesi mereka, masyarahkat, lingkungan dan Tuhan Yang Maha Esa.


 II. BATANG TUBUH

Kode Etika dan (Keprofesian/Etika Profesi) dikaitkan dengan Industri Jasa Konstruksi (Konsultan/Kontraktor/Pabrik material bangunan) adalah sekumpulan peraturan atau ketentuan yang baik dan bermoral yang dibuat dan dilaksanakan oleh sekelompok orang yang berkeahlian tertentu, yang berprofesional, untuk menjunjung tinggi kemuliaan profesi mereka demi tanggungjawabnya terhadap profesi mereka, masyarahkat, lingkungan dan Tuhan Yang Maha Esa.
Mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembangunan suatu Bangsa, karena disamping menjadi penunjang utama kegiatan-kegiatan dalam sektor-sektor pembangunan yang lain, hasil karyanya juga lambang peradaban yang dapat mengambarkan tinggi rendahnya kebudayaan suatu bangsa pada suatu masa.
Mereka merupakan bidang usaha yang tidak saja mampu menyerap tenaga kerja yang cukup besar, tetapi juga merupakan bidang yang sangat efektif bagi pemupukan modal pengusaha, untuk selanjutnya diinvestasikan ke berbagai bidang. Di samping itu idutri atau jasa construksi juga dapat menjadi oral pengerak perekonomian nasional, karena dalam bidang-bidang tertentu, telah mampu dikerjakan sepenuhnya oleh potensi dalam negri, dan dampaknya dapat ikut menggerakkan kegiatan –kegiatan ekonomi yang lain .
 Keberadaan dan jasa konstruksi nasional telah mengalami pasang surut yang terkait erat dengan kondisi perekonomian dan politik nasional yang berkembang sejak tahun 1966-1980, perkembangan industri atau jasa konstruksi nasional merupakan awal perkembangan yang cukup memuaskan. Hal ini terbukti dengan keputusan KEPRES.No 14/1979, No 10/1980 dan KEPRES.No 18A/1980, yang mengatur tentang tata cara pelaksanaan tender untuk proyek-proyek konstruksi.
Pada tahun 1981-1990/an perkembangan industri/jasa konstruksi mencapai tingkat dan kecepatan yang sama tinggi, sehinga pemerintah mengeluarkan KEPRES No.1/1982, No.7/1982, No 42/1982 dan No 17/1983 serta penyempurnaan KEPRES No 14/1979 menjadi KEPRES No 29/1984. pada periode ini juga telah di bentuk Tim pengendalian pengadaan barang/peralatan pemerintah yang telah berhasil meningkatkan barang dan jasa produksi dalam negri, termasuk kontraktor dan konsultan dalam negri.
 Pada periode tahun 1981-1990, perkembangan industri atau jasa kopnstruksi di samping di dukung oleh kondisi perekonomian juga oleh kondisi politik yang cukup baik dan stabil sehingga banyak proyek-proyek pembangunan nasional baikyang berskala kecil sampai yang besar , mengggunaka teknologi teknologi rendah sampai teknologi tinggi, telah dapat di selesaikan dengan baik dan dapat di banggakan.Disamping itu telah tumbuh pula asosiasi-asosiasi profesi yang mendukung keberadaan industri ini, misalnya INKINDO (Ikatan konsultan Indonesia), GAPENSI (Gabungan Pengusaha Jasa Konstruksi) dan KADIN (kamar dagang dan industri nasional) yang juga telah berkembang dengan pesat baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah.
Pada periode tahun 1991-1997/an perkembangan industri atau jasa konstruksi mengalami berbagai macam persoalan, baik masalah-masalah interen maupun eksteren akibat dinamisme di lingkungan industri atau jasa konsultan itu sendiri. Salh satu masalah yang ada pada saat itu adalah, ketidak seimbangan antara pasar dan jumlah kontraktor akibat perkembangan pesat tersebut diatas.Untuk mengatasi hal tersebut pemerintah melalui KEPRES No 16/1994,menata kembali tata cara pelaksanaan APBBN, terutama terkait dengan penataan prosedur pelaksanaan proyek-proyek pemerintah yang ditangani oleh jasa konstruksi dan jasa konsultansi.
Dalam KEPRES No 16/1994 ini telah diatur lebih detail di banding dengan KEORES sebelumnya tentang bebagai hal yang menyangkut tata cara kerja industri atau jasa konstruksi mengalami keterburukan seiring dengan komisi politik nasional yang tidak menentu dan melemahnya tukar rupiah terhadap dolar. Beberapa industri atau jasa konstruksi baik yang swasta mupun BUMN mengalami kepailitan, pasar hampir tidak ada,invstor semakin kurang dan APBBN yang terkait dengan pembangunan konstruksi jumlahnya juga semakin berkurang dan APBBN yang terkait dengan pembangunan konstruksi jumlahnya juga semakin kecil, semuanya tidak sebanding dengan jumah perusahaan industri atau jasa konstruksi yang sudah ada.
 Dengan telah diberlakukannya otnomi daerah pada tahun 2001, dimana kebijakan yang terkait dengan pembangunan daerah lebih banyak ditentukan oleh pemerintah daerah setempat, akan menjadi pertanyaan bagi kita apakah industri atau jasa di bidang konstruksi ini akan mempunyai prospek yang lebih baik ataukah sebaliknya.Apabla setia[ daerah mempunyai kebijaksanaan lebih mementingkan perusahan daerah setempat dalam menerapkan pelaksanaan tender-tender proyek pemerintah,maka setiap industri atau jasa konstruksi akan mengalami pergeseran pendapatan OMZET, dari yang bersifat sentralistis menjadi regionalistis. Oleh karena itu perlu untuk diadakan study evaluasi tentang kberadaan dan perkembangan industri ini, terutama terkait dengtan knijakan-kebijakan pasca pelaksanaan otonomi daerah.

Menurut Kirman (1988), defnisi perusahan jasa konstruksi adalah suatu kegiatan sektor ekonomi yang melakukan transformasi beberapa sumber daya untuk Imenghasilkan fasilitas-fasilitas prasarana ekonomi dan sosial. Proses transformasi tersebut meliputi kegiatan perencanaan (planing), rekayasa (desain), procurement, pembangunan, pengoperasian dan pemeliharaan prasarana dan fasilitas yang telah di hasilkan.
 Pelaku kegiata dalam perusahaan jasa konstruksi meliputi perencana (konsultan perencana), pemborong(kontraktor), subkontraktor, pengawas pekerjaan (konsultan supervisi), akuntan, ahli-ahli hukum dan lain-lain dalam perusahaan jasa konstruksi, hubungan interaksi pelaku kegiatan tersebut di atur melalui perjanjian kerja (kontrak). Untuk menyelesaikan pekerjaan yang telah ditetapkan kegiatan yang di lakukan melalui manejemen proyek konsrtruksi.
Kontrktor dapat di definisikan sebagai pelaksana konstruksi atu pembangunan pekerjaan sipil seperti gudang, jalan, irigasi, pelabuhan, lapangan terbang, kawasan pemukiman, perumahaan dan lain-lain, bedasarkan ikatan kontrak pekerjaan yang mencakup pelaksanaan pembangunan dan pemeliharaan. Sedangkan Konsultan dapat didefinisikan sebagai perencana atau pegawas konstruksi.danatau layanan pekerjaan konstruksi yang diberikan loleh pelaksanaan kontruksi.pekerjaan konstruksi adalah keseluruhan aatau sebagian rangkaian kegiatan perencanaan dan atau pelaksanaan serta pegawasan yag mencakup pekerjaan sipil, mekanikal, elektrikal beserta kelengkapan instlasinya, untuk mewujudkan suatu bangunan atau bentuk fisik lain.
 Undang-undang jasa konstruksi 1999 juga mendefinisikan beberapa orang perseorangan atau badan usaha yang terlibat dalam pelaksanaan konstruksi, yaitu :
Pengguna jasa, adalah orang perseorangan atau badang hukum baik
sebagai pemilih pekerjaan atau proyek yang memerlukan penyedia jasa untuk
melaksanakan pekerjaan konstruksi.
  Penyediaan jasa, adalah orang perseorangan atau badang usaha yang kegiatan usahanya menyediakan layanan jasa konstruksi.Termasuk daam hal ini adalah konsultan dan kontraktor.
Forum, adalah wadah sarana komunikasi dan konsultasi antara masyarakat jasa konstruksi nasional dan pemerintah mengenai hal-hal yang berkaitan dengan masalah jasa dan konstruksi nasional yang bersifat nasional, independen dan mandiri.
Registrasi, adalah suatu kegiatan untuk menentukan kompetensi profesi keahlian dan ketrampilan tertentu, orang perseorangan atau badang hukum untuk menentuklan ijin usaha sesuai klasifikasi dan kualifikasi yang di wujudkan dalam sertifikat ketrampilan dan keahlian kerja.

Menurut Barrie dan paulson (1994), tipe proyek konstruksi dapat di
 kategorikan menjadi empat tipe utama konstruksi. Keempat tipe tersebut dapat di jelaskan sebagai berikut :
Konstruksi pemukiman (residential construction)
Konstruksi pemukiman meliputi real state, perumahan keluarga (rumah tinggal),perumahan kota, perumahan unit ganda, rumah susun (flag) dan kondomunium.
Konstruksi gedung (building construction)
Konstruksi baguanan gedung di mulai dari toko pengecer kecil sampa pada kompleks peeremajaan kota, misalnya gedung sekolah, gedung Universitas, gedung Rumah sakit,gedung perkantoan komersial, gedung Gereja, gedung Bioskop, gedung Pemerintah, gedung pusat rekreasi, gedung industri, pergudagan dan lain-lain
Konstruksi rekayasa berat (heavy enggineering consruction)
Konstruksi rekayasa berat meliputi konstruksi bendungan,terowongan, irigasi, pengendalian banjir, jembatan, jaringan jalan kereta api, pelabuhan udara,jalan raya, banginan sistem penyaringan, distribusi air minum, jaringan listrik,jaringan komunikasi dan lain-lain.
Konstruksi industri (industrial construction)
Konstruksi industri meliputi konstruksi pabrik penyelingan minyak bumi dan petro kimia, pabrik bahan bakar sintetik, pusat pembangkit listrik tenaga nuklir, pabrik peleburan minyak, pabrik baja dan alumunium serta pabrik-pabrik lainnya.

Menurut Kerzner(1999), pengertian manajemen proyek adalah merupaka suatu perencanaan,pengaturan, pengarahan dan pegontroplan sumber daya perusahaan untuk mencapai sesaran dalam waktu yang relatif singkat, dimana telah terbukti untuk mencapai tujuan tertentu secara sempurna.
Sebuah kontrak dapat di artikan sebagai perjanjan atau persetujuan antara dua pihak secara suka rela dan meningkatkan diri mereka masing-masing,dalam persetujuan tersebut yang di anggap sebagai “hukum“ yang harus di taati dan di penuhi.Pada proyek-proyek bidang konstruksi pada dasarnya kontrak di buat dengan mlibatkan pihak pemberi pekerjaan, yang dalam hal ini biasanya mewakili pemilik atau pemilik pekerjaan itu sendiri denga pihak penerima pekerjaan.Jadi paling sedilit ada dua unsur yang terlibat.
Menurut Barrie dan paulson pada tahun 1994 ada tiga aspek mengenai mutu berkaitan dengan rekayasa, pengendalian dan jaminan yang masing-masing di berikan batasan sebagai berikut :
 1. Rekayasa mutu
 2. Pengendalian mutu
3.  Jaminan mutu

Secara umum prosedur pendirian perusahan industri jasa kontraktor dapat di jelaskan sebagai berikut :
Pembuatan akte notaris untuk pendirian PT atau CV
 Pengesahan akte notaris, PT oleh Departemen Kehakiman,itu di Jakarta pusat, sedangkan CV oleh pengadilan negeri setempat.
 pengurusan Domisili (diketahui RT, RW, Lurah dan Camat)
 Pengurusan TDP(Tanda daftar perusahaan di Departemen perdagangan)
Pengurusan PKP
Pengurusan NPWP
Pengurusan untuk menjadi anggota organisasi profesi
Pengurusan SIUJK
 Pendaftarn sertifikasi
Klasifikasi industri jasa kontraktor
 Ada kesalahan yang mendasar dan telah menjadi kultur global, bahwa kriteria apa yang seharusnya dapat dijadikan sebagai acuan untuk menilai prestasi dan produk professional. Selama ukuran yang dipakai untuk penilaian kwalitas,adalah segi kwalitas teknis dan manfaatnya,sedangkan bagi kwantitas adalah dari segi produktivitas dan efisiensinya.Inilah penilaian yang sekuler dan telah menempatkan obyek yang dinilai barang mati atau mesin.
 Kita telah melupakan kriteria makna spritual atau keridhaan Tuhan,dan sebagai akibatnya,sebagai contoh yang sangat extrim,terlibatnya beberapa negara adi kuasa dalam perlombaan senjata,pencemaran lingkungan,paket informasi budaya yang merusak moral dan sebagainya. Disinilah sesunggunya agama berperan. Agama akan memeberikan wawasan yang lebih luas untuk dapat mencapai makna manfaat dan spritual yang maksimal,tanpa mengurangi kemantapan dan ketahanan kwalitas teknis dan produktivitas maksimalnya,sehingga produk atau prestasi tersebut bermanfaat bagi kemanusian,alam dan lingkungan secara keseluruhan.
Moral professional secara umum dapat di bedakan sebagai berikut :
 1. Tingkat pra professional.
 2. Tingkat professional konvensional.
3.  Tingkat professional berazas.

Dalam dunia professional,upaya peningkatan peringkat tersebut,bisanya selalu dilakukan melalui kode etika profesi,padahal masalah tersebut dapat di tempuh melalui agama.Agama dapat memberikan kontribusi sebagai kendali transedental,sebagai pemberi ukuran dan kepastian,disamping sebagai pemberi makna spiritual.
Mereka adalah manusia-manusia biasa yang diciptakan oleh Tuhan sebagai mahkluk yang tidak sempurna dengan segala kekurangan dan kelemahannya.Oleh sebab itu,perlu ada peraturan serta ketentuan tentang kewajiban dan tanggug jawabnya yang dapat dipergunakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan profesinya.
Dalam masyrakat profesi,peraturan dan ketentuan tersebut dapat di beri nama kode etika dan ketentuan perilaku keprofesian,sedangkan otoritas pelaksanaan penindakan atas pelanggaran diprcayakan kepada satu dewan kehormatan atau mejelis,yang terdiri dari orang-orang terpilih dengan integritas tinggi dan berpengalam luas dalam bidang profesi bersagkutan.Kode etika konsultan atau kontraktor pada dasarnya berisikan pedoman serta petunjuk tentang kewajiban dan tanggung jawabnya terhadap profesi,masyarkat umum,klien dan rekan-rekan profesinya.

Dengan adanya kode etika dan dipatuhi secara sungguh-sungguh,maka pihak klien dan masyarakat umum memperoleh jaminan akan hasil pekerjaan yang optimal baik dari segi kwalitas maupun kejujuran.Sebaliknya,dalam iklim sehat dibawah perlindungan kode etik,konsultan atau kontraktor dapat menjalankan tugasnya dengan penuh dedikasi dan memberikan semua keahlian serta pengalamannya untuk mencapai hasil yang terbaik.


 III. PENUTUP

KESIMPULAN
Kode Etika dan (Keprofesian/Etika Profesi) dikaitkan dengan Industri Jasa Konstruksi (Konsultan/Kontraktor/Pabrik material bangunan) penulis dapat menyempulkan bahwa kumpulan Ide, Pikiran, gagasan atau ketentuan yang baik dan bermoral yang dibuat dan dilaksanakan oleh kelompok atau orang-orang yang berkeahlian dalam bidang tertentu, yang berprofesional, untuk menjunjung tinggi kemulian profesi mereka demi tangunjawabnya terhadap profesi mereka, masyarahkat, lingkungan dan Tuhan Yang Maha Esa.

SARAN
Penulis dapat menyarangkan bahwa pada dasarnya Kode Etika dan (Keprofesian/Etika Profesi) dikaitkan dengan Industri Jasa Konstruksi (Konsultan/Kontraktor/Pabrik material bangunan) adalah mencermingkan kepribadian dalam menjalani talenta keprofesian-nya yang harus dapat dijunjung tinggi.


DAFTAR PUSTAKA
Miftahul Huda, 2006, Diktat Kuliah Profesional Skil Bagian IV Etika dan Kode Etika Profesi, Program Studi Teknik Sipil, Jurusan Teknik Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.
Miftahul Huda, 2006, Diktat Kuliah Profesional Skil Industri Jasa Konstruksi (kontraktor), Program Studi Teknik Sipil, Jurusan Teknik Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.

Kamis, Oktober 15, 2009

Dinding Geser [Konstruksi Tahan Gempa]

Masih berbicara mengenai bencana yang belum lama menimpa saudara kita di Padang dan sekitarnya. Bantuanpun belum berhenti mengalir kepada para korban. Dan salah satu tempat yang memakan banyak korban masih saja menjadi bahan perbincangan. Hotel Ambacang memang sudah menjadi puing-puing, sebenarnya tidak patut kita berkata "seharusnya begini, seharusnya begitu" saat bencana sudah terjadi. Namun membicarakannya di sini hanya berniat agar kejadian yang telah berlalu dapat menjadi pelajaran dan tidak akan terulang pada bangunan-bangunan serupa.


Jika dilihat sepintas. Hotel ambacang terlihat megah pun juga terlihat kokoh karena bentuk konstruksinya mirip konstruksi candi Borobudur, yakni melebar ke samping, tidak seperti kebanyakan hotel atau bangunan besar pada umumnya yang tinggi menantang langit. Lalu kenapa saat hotel tersebut diguncang gempa dapat luluh lantak seperti itu? Oke, jika kita membicarakan penyebabnya adalah skala Richter daripada gempa tersebut sangatlah besar, maka pembicaraan akan selesai sampai di sini saja. Namun coba kita tilik dari sisi konstruksi bangunan hotel tersebut.



Gambar : Perbandingan Hotel Ambacang dengan Candi Borobudur



Pertama, hotel tersebut pada mulanya hanyalah pertokoan dan arena bermain (yang dulunya dikenal dengan nama Telaga Ambacang) yang hanya terdiri 2 lantai. Saat dilakukan pemugaran pada tahun 2005 bangunan Ambacang itu menjadi 6 lantai. Apakah mungkin bangunan yang didesain 2 lantai dipaksakan menjadi 6 lantai tanpa membongkar bangunan tersebut dari pondasinya? Dan pastinya akan memerlukan banyak waktu dan biaya untuk membongkarnya saja. Itupun belum struktur 2 lantai yang diubah menjadi struktur 6 lantai tidak akan cukup hanya dengan mempertebal kolom dan balok yang sudah ada. Kita lihat saja contoh dari gedung yang sama-sama mengalami dampak gempa di Padang namun dibangun dengan prosedur yang benar, yaitu gedung Telkomsel di Jl. Khatib Sulaeman dan gedung Sutan Khasim di Jl. Veteran. Kedua gedung ini tidak mengalami kerusakan yang berarti dan tidak sampai luluh lantak. (detiknews.com)

Kedua, tidak adanya dinding geser (shear wall) pada bangunan ini yang mutlak menjadi penyebab utama runtuhnya hotel Ambacang. Dapat kita lihat bahwa kerusakan struktur yang parah adalah pada kolom-kolomnya yang hancur. Padahal standar desain gedung seharusnya saat terjadi kegagalan struktur baloklah yang seharusnya hancur terlebih dahulu dan bukannya kolom. Kita bayangkan saja, jika sebuah konstruksi kehilangan satu kaki saja (kolom), sudah pasti konstruksi tersebut tidak lagi bisa berdiri. Lain jika sebuah konstruksi hanya kehilangan baloknya, konstruksi tersebut masih bisa bertahan berdiri pada kaki-kakinya.



Gambar : Konstruksi tidak akan bertahan jika kehilangan kolomnya 


Lalu apakah dinding geser itu? Perlu diingat, bahwa semakin tinggi bangunan semakin rawan bangunan tersebut dalam menahan gaya lateral, terutama gaya gempa. Oleh karena itu pada daerah rawan gempa seperti Indonesia perlu dilakukan perencanaan yang menyeluruh terhadap desain bangunan tahan gempa. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah memunculkan salah satu solusi untuk meningkatkan kinerja struktur bangunan tingkat tinggi yaitu dengan pemasangan dinding geser (shear wall) dengan menggunakan komponen batas (boundary element) sebagai subsistem penahan beban lateral dari sistem struktur. Dinding geser dipasang untuk menambah kekakuan struktur dan menyerap gaya geser yang besar seiring dengan semakin tingginya struktur. Komponen batas berfungsi untuk menahan gaya vertikal dari tributrary area dinding geser, sehingga panel dinding geser dapat menjadi lebih tipis. Pada bangunan yang sangat tinggi, lebar dinding geser yang diperlukan menjadi sangat besar sehingga dari segi arsitektural peruntukan ruang terganggu dan segi ekonomis menjadi mahal. Salah satu cara untuk memperkecil lebar dinding geser dengan nilai kekuatan yang sama yaitu dengan penambahan outrigger pada struktur. Outrigger berfungsi untuk memperkaku struktur, menclisipasi gaya gempa dan menyalurkannya ke kolom-kolom struktur lainnya sehingga gaya gempa yang ditahan oleh panel dinding geser menjadi lebih kecil. Hal inilah yang tidak terdapat pada hotel Ambacang. Disamping tidak adanya shear wall, bentuk hotel Ambacang yang lebar memaksa kolom-kolom bangunan ini harus bekerja ekstra untuk menahan beban sendiri bangunan dan beban hidup (penghuni hotel dan yang lain) yang ada di dalamnya, sehingga saat terjadi gempa (beban gempa) kolom-kolom sudah tidak mampu mengimbangi gaya yang terjadi dan kemudian hancur saat balok-baloknya masih cukup kuat.

Dari tulisan di atas, penulis hanya berharap khususnya kepada praktisi Teknik Sipil dan pada umumnya pada masyarakat luas untuk lebih mementingkan aspek keselamatan manusia lebih daripada kepentingan prestisi sebuah bangunan maupun kepentingan promosi dan lain sebagainya.

Sabtu, Oktober 03, 2009

Konstruksi Bangunan Tahan Gempa



Siklus gempa 200 tahunan yang melanda Padang dan Pariaman menelan ratusan korban jiwa penyebabnya didominasi oleh runtuhnya bangunan yang ditinggali oleh warga. Di lain sisi kita menengok besarnya skala richter gempa tersebut kita juga harus memikirkan bagaimana sebuah bangunan diciptakan untuk tetap bertahan dalam kondisi gempa pada skala tersebut. Ahli konstruksi Teknik Sipil Stanford University, Greg Deierlein mengemukakan penemuannya mengenai bangunan tahan gempa.


Diagram skematik kerangka goyang yang disiapkan untuk goncangan pada tabel pengujian. Baja-frame ditampilkan dalam warna merah. Struktur putih di belakang bingkai mensimulasikan berat dari sebuah bangunan berlantai tiga. Insetnya menunjukkan baja diganti sekering kuning, di dasar frame goyang. Belakang dan di depan adalah sumbu vertikal kabel baja yang menarik bangunan kembali ke plumb setelah gempa bumi. Selama pengujian, frame terjepit di antara dua struktur putih.



Gambar : Diagram Seismatik


Setelah tes goncangan, sebuah baja sekering menunjukkan deformasi yang disebabkan oleh energi yang dikeluarkan selama gonjangan terjadi. Sekeringnya dirancang untuk menyerap kerusakan dan mudah diganti setelah gempa bumi. Sebuah metode baru konstruksi baja yang menggunakan tendon dan sekering yang dapat diganti sangat membantu bangunan bertahan dari gempa bumi kuat. Penelitian baru ini telah berhasil diujicobakan.

Pada percobaan ini menggunakan meja goyang raksasa, sistem simulasi ini dapat menahan gempa bumi berkekuatan lebih dari 7 skala Richter. Sistem ini lebih kuat menahan goncangan yang pernah terjadi di Northridge pada tahun 1994, yang mengguncang daerah Los Angeles, dan gempa bumi Loma Prieta pada tahun 1989 yang menghancurkan bagian dari San Francisco Bay.

Kekuatan besar gempa bumi sering meninggalkan sisa bangunan yang rusak di bagian belakang dan biasanya sangat mahal untuk memperbaiki. "Sebagian besar bangunan yang kita rancang sedemikian rupa apabila terjadi gempa besar, maka bangunan tersebut dapat menyelamatkan penghuninya, " jelas Greg Deierlein, profesor teknik sipil dan lingkungan di Stanford University dan juga ketua tim peneliti.


Gambar : Konstruksi Tahan Gempa


Untuk mengurangi kerusakan struktural, sistem baru bergantung pada steel braced-frames, yang dibangun pada dinding eksterior bangunan. Sistem baru ini dirancang sangat elastis naik turun setiap kali terjadi gempa bumi. Sistem ini terletak di tengah-tengah bingkai tendon baja yang cukup elastis untuk mengendalikan goncangan. Tendon juga membantu mengangkat bangunan kembali ke tempatnya semula setelah gempa berhenti. "Yang menarik dari frame ini adalah terbuat dari batuan yang kuat, dan berbeda dengan sistem konvensional," lanjut Deierlein.

Baja "sekering" yang diletakkan di bagian bawah frame juga berfungsi menyimpan sisa bangunan dari kerusakan yang terjadi. Sekeringnya dibuat sangat fleksibel dan berfungsi menghilangkan energi seismik, yang membatasi kerusakan pada daerah-daerah tertentu. Seperti halnya alat listrik lainnya, sekering baja ini dapat dengan mudah diganti ketika selesai digunakan.

"Gagasan sistem struktural ini adalah bagaimana kita berkonsentrasi pada kerusakan dengan penggunaan sekering," kata Deierlein. Sistem ini dapat diinstal sebagai bagian dari desain awal bangunan dan dapat dipasang ke bangunan yang sudah ada. Hal ini sangat ekonomis dan layak dilaksanakan karena terbuat dari bahan yang biasa digunakan dalam konstruksi.
__________________________
Sumber : http://marketing.siniada.com/2009/10/bagunan-tahan-terhadap-gempa.html

Sabtu, Juni 06, 2009

Sejarah Teknik Sipil


Kampus gue adalah kampus yang Lucu. Terutama untuk jurusan gue, Teknik Sipil. Dari sebagian teman-teman gue yang terlihat sukses di kelas (membuat gue iri...) ternyata mempunyai cerita yang unik perihal sejarah mereka masuk ke jurusan Teknik Sipil ini. Ada yang mengartikan Teknik Sipil hubungannya dengan Pegawai Negeri Sipil, jadi lulus nanti langsung jadi PNS. Ada yang lumayan tahu bahwa Teknik Sipil membidangi bangunan, masuk ke jurusan Teknik Sipil karena suka gambar-gambar gedung. Walau sedikit benar, tapi yang hobi gambar-gambar gedung 'mah seharusnya jadi arsitek. Namun mereka semua tetap sukses di kelas. Lalu apa sih Teknik Sipil Sebenarnya?Sebagai orang yang "bakal" berkecimpung di dunia Teknik Sipil seharusnya tahu sejarah Teknik Sipil sendiri. 

Teknik Sipil ( Civil Engineering) adalah Ilmu yang mempelajari tentang bagaimana merancang, membangun, renovasi tidak hanya gedung dan infrastruktur, tetapi juga mencakup lingkungan untuk kemaslahatan hidup manusia, makanya ilmu ini disebut dengan Sipil/Civil.



Teknik sipil termasuk profesi yang sudah berkembang sejak lama, diperkirakan sudah berkembang di Mesir kuno dan Mesopotamia antara 4000 sd 2000 SM. Adalah Pyramid Raja Djoser yang diketahui terdapat di kompleks Saqqara, diakui sebagai pyramid tertua di dunia (berusia lebih dar 4000 tahun,atau sekitar tahun 2600 SM), dibangun seorang engineer bernama Imhotep. Yang masih megah berdiri hingga kini.

Gambar : Patung Imhotep

Gambar : Piramida karya Imhotep

Awalnya Profesi Engineer ini dimiliki oleh militer (bagiang dari jabatan militer) untuk membangun pertahanan, benteng, pos pos militer, jalan, jembatan dan bangunan pendukung perang lainnya. Seusai perang para engineer ini dibutuhkan untuk membangun ulang kota yang sudah hancur, menata kota lebih teratur sesusai kebutuhan. Namun akhirnya profesi ini terpisah dari militer. Civil Engineering. Ilmu yang melingkupi Civil engineering ini termasuk matematika, kimia, geologi, lingkungan hingga komputer. Semuanya memiliki fungsi penting dalam Civil engineering.


Istilah Civil Engineer sendiri dikenalkan oleh John Smeaton seorang kebangsaan inggris yang telah banyak berkarya membangun bebagai macam struktur sperti “Eddystone Lighthouse” yang dibangun tahun 1756.

Gambar : John Smeaton, bapak Teknik Sipil

Gambar : Eddystone Lighthouse karya Smeaton

Teknik Sipil terbagi beberapa cabang yaitu Struktur, Geoteknik, Manajemen Rekayasa Konstruksi, Hidrologi, Teknik Lingkungan,dan Transportasi.


Profesi Seorang civil engineer ini mencakup perancangan/pelaksana pembangunan/pemeliharaan prasarana jalan, jembatan, terowongan, gedung, bandar udara, lalu lintas (darat, laut, udara), sistem jaringan kanal, drainase, irigasi, perumahan, gedung, minimalisasi kerugian gempa, perlindungan lingkungan, penyediaan air bersih, konsep finansial dari proyek, manajemen projek dsb. Semua aspek kehidupan tercangkup dalam muatan ilmu teknik sipil.

Perkembangan teknologi menuntut profesi Civil Engineering tidak hanya berurusan dengan proyek bangunan, tetapi diharuskan memahami bidang lainnya seperti halnya informatika; Komputasi, yang memungkinkan untuk memudahkan kelancaran suatu proyek dalam Analisis dan Design, dan Arsitektur. Sebutlah misalnya pemodelan bangunan dengan AutoCAD, Manajemen proyek dengan Primavera atau MS Project, Analisis struktur akibat beban gempa, Beban Angin, Beban bergerak dan lainnya, smua itu dapat dimodelisasi dengan bantuan Komputer. Hal ini tentu akan mengurangi faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan struktur. Hasilnya tahun 1960 sd 70-an, Proyek komputasi pertama kali digunakan untuk mendesign Sydney Opera House.

Gambar : Tampilan program AutoCAD

Gambar : Sydney Opera House, gedung pertama dengan perhitungan komputasi

Sulit dibayangkan bagaimana Bangunan – sperti Burj Dubai, Petronas, Taipei 101 – dapat dimengerti dan dibangun tanpa Analisis komputer.

___________________

sumber sedikit banyak diambil dari :

Wikipedia

http://diskmal.wordpress.com


Minggu, Mei 31, 2009

Geosintetik Untuk Perbaikan Tanah

Satu lagi dari tugas-tugas gue yang telah dengan sukses gue selesaikan, akan gue bagi-bagikan bagi teman-teman di manapun berada. Karena berbagi ilmu itu sangatlah indah (so sweet... bleh!).

Jika kemarin gue membahas mengenai RAB (Rencana Anggaran Biaya), di post kali ini gue akan berbicara mengenai jenis-jenis Geosintetik yang mana sudah familiar sekali di dunia Teknik Sipil sebagai bahan untuk perbaikan tanah.

Apa itu Geosintetik? Ditinjau secara etimologi, geosintetik terdiri dari dua kata (biasanya diambil dari bahasa Yunani, mengapa Yunani? karena tidak ada Masnani...)  yaitu Geo atau tanah dan Sintetik yang berarti bahan tiruan atau buatan. Dapat diartikan tanah tiruan, namun yang dimaksud lebih tepatnya adalah bahan sintetis yang digunakan dalam hal rekayasa tanah. Istilah geosintetik mengacu pada material sintetik yang digunakan dalam permasalahan geoteknik. Material sintetik merupakan hasil polimerisasi dari industri-industri kimia atau minyak bumi. . Penggunaan bahan sintetik ini berkaitan dengan sifat ketahanan (durabilitity) material sintetik terhadap senyawa-senyawa kimia, pelapukan, keausan, sinar ultra violet dan mikroorganisme. Polimer utama yang digunakan untuk pembuatan geosintetik adalah Polyester (PET), Polyamide (PM), Polypropylene (PP), dan Polyethylene (PE).

Ada empat jenis geosintetik yang umum digunakan dalam bidang teknik sipil, yaitu :

1. Geotekstil

Adalah bahan lulus air dari anyaman (woven) atau tanpa anyaman (non-woven) dari benang-benang atau serat- serat sintetik. Tenun dihasilkan dari 'interlaying' antara benang-benang melalui proses tenun, sedangkan non woven dihasilkan dari beberapa proses seperti : heat bonded (dengan panas), needle punched (dengan jarum), dan chemical bonded (enggunakan bahan kimia). Baik woven maupun non woven dihasilkan dari benang dan serat polimer terutama : polypropelene, poliester, polyethilene dan polyamide.

2. Geogrid

Produk geotekstil yang berupa lubang-lubang berbentuk segi empat (geotextile grid) atau lubang berbentuk jaring (geotextile net) , biasanya terbuat dari bahan Polyester (PET) atau High Density Polyethylene (HDPE).
GeoGrid (Enkagrid) merupakan bahan Geosynthetics yang berfungsi sebagai lapisan perkuatan (reinforcenent) untuk lereng jalan dan lain2, enkagrid mempunyai kuat tarik yang besar sampai 180 kN, untuk itu product jenis ini sangat sesuai untuk di pakai pada konstruksi jalan baru yang lapisan tanah dasarnya ber CBR rendah dibawah 2 %. GeoGrid sangat baik digunakan pada jalan raya yang berada pada struktur tanah yang kurang labil, sehingga jalan raya yang berlubang akan dapat teratasi.

3. Geomembrane

Geosintetik yang bersifat impermeable atau tidak tembus air, biasanya dibuat dari bahan high density polyethylene (HDPE).
Geomembranes adalah jenis geosynthetic bahan. Mereka kedap membranes digunakan secara luas sebagai cut-offs dan liners. Sampai beberapa tahun terakhir, kebanyakan geomembranes digunakan sebagai kanal dan kolam liners.

4. Geocomposite

Geocomposites adalah produk polymer, yang dibuat dengan menghubungkan dua atau lebih jenis geosintetik, misalnya geogrid dengan non-wovens. Digunakan baik untuk tanah (untuk separasi dan perkuatan) maupun untuk perkerasana jalan atau pengaspalan (perkuatan dan perbaikan tanah pondasinya). 
Perkuatan menggunakan geocomposite memanfaatkan keunggulan non-woven geotextile yang dikombinasikan dengan perkuatan woven geotextile yang dirajut atau disebut geogrid, yang merupakan unit yang dibentuk oleh jahitan atau melalui thermal bonding.

Disamping keempat jenis Geosintetik konvensional di atas, masih ada banyak jenis-jenis geosintetik yang juga digunakan dalam bidang Teknik Sipil. Hal ini tergantung dari keperluan pemakaian dari Geosintetik itu sendiri, sehingga memunculkan jenis Geosintetik yang bervariasi. Diantara jenis-jenis tersebut yaitu :

  1. geoarmour
  2. geobar
  3. geoblanket
  4. geocell
  5. geofoam
  6. geoform
  7. geomat
  8. geomattress
  9. geonet
  10. geospacer
  11. geostrip

Jika teman-teman pembaca yang budiman belum merasa cukup dengan penjelasan di atas. Bisa donlot makalah sekaligus file presentai gue di sini (klik saja...!). Terima kasih, jangan lupa meninggalkan komentar, saran maupun kritik yang membangun.

____________

dari berbagai sumber


Sabtu, Mei 16, 2009

Menyusun Rencana Anggaran Biaya Bangunan (RAB)

Woo...

Tugas-tugas gue sudah hampir kelar semua. Yah, tinggal 40% lah, dari keseluruhannya. Hampir stres gue dibuatnya. Tapi bukan Haris namanya kalau sampai stres. Dunia kiamat, pun gue akan berusaha tetap tersenyum.

Post kali ini gue akan membahas tentang salah satu tugas gue, yaitu RAB atau Rencana Anggaran Biaya. Sebelum menuju ke langkah perhitungan, gue akan sekilas menerangkan tentang RAB. Apa sih RAB?

RAB (Rencana Angaran Biaya) adalah banyaknya biaya yang dibutuhkan baik dari upah maupun bahan dalam sebuah perkerjaan proyek konstruksi, baik rumah, gedung, jembatan, masjid, dan lain-lain. 

Oke! Tanpa banyak cing-cong, gue akan langsung memberikan langkah-langkah perhitungan RAB. Dan bagi para pembaca, jangan lupa dibaca sampai selesai dahulu dan dipahami.

1. Menghitung Volume

misalnya, gue punya lahan dengan lebar 12 m dan panjang 15 m, maka volume dari pekerjaan pembersihan lapangannya adalah 12x15 = 180 m persegi. Jadi, volume belum tentu satuannya adalah meter kubik (panjang x lebar x tinggi).

2.Membuat HSP (Harga Satuan Pekerjaan)
HSP adalah Hasil kali dari HargaUpah/Material dengan Index Analisa, kemudian dijumlahkan.


3. Membuat RAB
RAB didapat dari hasil kali dari Volume dengan HSP untuk setiap sub item pekerjaan.



4.Membuat Rekapitulasi
Hasil kali dari Volume dengan HSP kemudian dijumlahkan dari masing-masing sub item pekerjaan.



Gue rasa sudah cukup jelas, bagi yang masih belum jelas dengan tutorial gambar, boleh donlot hasil kerja gue di sini. Gue kasih gratis-tis, dengan tujuan agar para pembaca weblog gue yang budiman sudi untuk memberikan kritik dan saran pada gue.

--
NB:
Lihat juga post tentang Membuat Kurva-S
Sebagai tambahan referensi silakan download contoh RAB di sini.

_____________________

sumber sedikit banyak didapat dari argajogja.blogspot.com


Profil Saya

Foto Saya
Saya Haris Pradipta Putra, bekerja di PT. PJB - Badan Pengelola Waduk Cirata/BPWC, di bidang Pemeliharaan Sipil. Terima kasih atas bantuannya dan atas kunjungannya ke blog saya.
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons